FRETILIN: Lu Olo – Alkatiri: Sebuah perjalanan yang panjang di padang gurun

0
314

Aka Timor (Opiniaun) – Saya ada salah satu dari pendiri ASDT/FRETILIN pada tahun 1974, yang romantis, tidak janggut dan naif. Saya anggota aktif pada waktu itu dimana demokrasi kami masih rapuh (1974-75) ketika “revolusi bunga” yang dipimpin oleh “Kapiten-kapiten April” membuka jalan untuk kebebasan hak bagi rakyat, yang pada waktu masih dibawah Pemerintahan Portugis, untuk menentukan nasibnya sendiri.

Apa bisa dikatakan banyak atau sedikit, saya telah memberi kontribusi dalam organisasi partai. Saya terlibat aktif dalam kampanye pada tahun 1974-1975, saya lah yang mempengaruhi organisasi mengangkat ide demokrat sosial sebagai ideologi dasar ASDT/FRETILIN tetapi saya tidak memiliki peran apapun dalam organisasi partai di TL dan di luar negeri.

Menjelang invasi yang naas (7 Desember 1975), dalam rapat perdana Dewan Menteri pada 1 Desember yang dipimpin oleh Perdana Menteri Nicolao Lobato, diputuskan bahwa Mari Alkatiri, Rogerio Lobato dan saya sendiri agar meninggalkan Negara, masing-masing dari kami memiliki misi tertentu dan kami meninggalkan TL tepatnya pada tanggal 4 Desember 1975.

Dari 1975-1990 saya tinggal di NY karena disitulah saya harus menjalankan misi saya. Saya ditunjuk oleh seorang yang berjiwa besar, seorang pahlawan dan martir Nicolao dos Reis Lobato, untuk “membela hak kami di PBB”.
Mari Alkatiri adalah orang kepercayaan Nicolao Lobato dan oleh karena itu ia ditunjuk sebagai Menteri Negara Urusan Politik, salah satu dari dua jabatan yang penting dalam pemerintahan dari hasil deklarasi kemerdekaan sepihak pada 28 November 1975. Pada waktu itu Abilio Araujo, sudah berada di Lisbon, mengejar gelar di bidang Ekonomi. Dia diangkat sebagai Menteri Negara Urusan Ekonomi dan Sosial.

Ditubuh yang kecil itu dan dengan otak yang besar, Mari Alkatiei memiliki sebuah cadangan energi yang besar, kercerdasan dan tekad. Bertekad, cerdas, bangga dan tegak, Mari Alkatiri tidak menyerah kepada siapapun, terutama ketika mereka bukannya membujuk dia dengan argumen-argumen yang cerdas dan koheren, tetapi memilih untuk menekannya.

Tapi dalam politik, seperti halnya dalam hidup kita sehari-hari, ada kalanya kita harus tahu kapan kita harus membungkuk, menjadi fleksibel seperti pohon bambu menurut arah angin, sebaliknya tulang belakang kita akan patah jika kita tidak tahu untuk menjadi pragmatis, fleksibel atau mundur bila perlu.
Seorang pelajar, selalu membuat saya terkesan dengan kemudahan dan kemampuannya untuk belajar dan menyerap tema-tema yang berbeda. Saya tidak akan mengatakan disini bahwa saya yang telah mendorong dia untuk kembali belajar ketika dia tinggal di Mozambik, tanah yang murah hati yang telah menerima puluhan pemuda-pemuda dari Timor dan disana mereka belajar ekonomi, kedokteran, hukum dan mendapat pengalaman yang profesional.

Tetapi saya bersikeras agar ia dapat kembali belajar setelah itu saya menerima surat darinya di NY mengatakan bawha saya adalah orang pertama kepada siapa ia menulis untuk mengatakan bahwa ia memutuskan untuk kembali bersekolah.

Dan dia menyelesaikan kuliah Hukumnya dengan nilai yang baik. Ia selamat dari pertengkaran internal FRETILIN di luar negeri dan dia bertahan.

Waktu itu dan sekarang tidaklah mudah melakukan politik di negeri kita.
Saya ingin kembali kepada tahun 2002 ketika Mari Alkatiri memimpin Pemerintah Konstitusional Pertama RDTL. Anggaran Umum Negara pada tahun 2002-2003 adalah US$ 68 juta dolar. Ya hanya 68 juta dolar. Ada sedikit negara yang membantu Anggaran Umum Negara.

Portugal adalah salah satu dari beberapa negara yang tidak pernah ragu-ragu untuk langsung mendukung anggaran negara, tidak memberi syarat tertentu yang absurd dan yang merendahkan negeri kita.

Dan dengan $68 juta ini telah digunakan dengan ekuitas dan teliti. Tapi apa yang dapat dilakukan dengan $68 juta disebuah Negara yang hancur total dan dengan tingkat kemiskinan yang waktu itu sangat tinggi?

Beberapa bulan setelah restorasi kemerdekaan di bulan Mei 2002, para Politisi Timor yang berada dalam oposisi telah mengkritik Pemerintahan Mari Alkatiri dengan korupsi dan tidak berkompotensi karena dengan $68 juta dan dalam enam bulan Pemerintahan ini tidak bisa menyelesaikan masalah kemiskinan yang semakin meluas.

Bahkan tanpa hasil minyak dan gas yang hanya baru mulai membantu memperbaiki kondisi keuangan Negara mulai dari tahun 2007, diprediksi bahwa ekonomi non-minyak TL akan mendapat pertumbuhan riil sekitar 6% pada tahun 2006.

Tetapi pendapatan dari minyak hanya terwujud sebagai hasil dari proses negosiasi keras yang dipimpin oleh Mari Alkatiri dengan hasil Perjanjian Laut Timor, satu-satunya kesepakatan yang mungkin pada waktu itu. Pada saat yang bersamaan dimana kesepakatan sedang bejalan Mari Alkatiri telah mempelajari dari pengalaman dana kekayaan, khususnya, dari model Norwegia.

Pada tahun 2005 didirikan Dana kekayaan berdaulat, sekarang menjadi sebuah patokan bagi dunia, dimana manajemennya sangat ketat dan cerdas yang telah memberikan pendapatan untuk saat ini $16 miliar.

Dan ini berkat kebijakan politik yang ketat dari Pemerintahan Konstitusional Pertama yang telah memberi kepada Negara likuiditas keuangan yang solid, yang memungkinkan pemerintahan selanjutnya, dari tahun 2007 sampai 2012, untuk mulai melakukan pelaksanaan investasi publik dibawah Rencana Pembangunan Strategis (2011-2030), inisiatif ini barasal dari “Maun Bot” Xanana. Mari Alkatiri adalah salah satu dari pendiri Extractive Industries Transparency Initiative (EITI), kini berbasis di Oslo.

Tahun-tahun pertama, dari 2002 sampai 2006, adalah tahun-tahun kesulitan, penghematan dan disiplin; gaji rata-rata bulanan kami para anggota Pemerintahan adalah $700; tidak seorang menteri dapat ke luar negeri tanpa ada izin melalui sebuah surat yang ditujukan kepada PM dua minggu sebelumnya. Dalam perjalanan bukan kenegaraan, Dr. Mari Alkatiri tidak berpergian lebih dari 2-3 orang; dan isterinya tidak menemaninya atas biaya pemerintah. Tidak seorang anggota Pemerintah memiliki keamanan pribadi, penggawal dan sirene yang sekarang disukai oleh banyak orang. Sebagian besar dari anggota Pemerintah tinggal di rumah pribadi, yang sangat sederhana.

Krisis tahun 2006 telah membuat Dr. Mari Alkatiri harus mengundurkan diri. Saya tidak akan menulis disini apa yang saya ketahui tentang akar dan alasan dari krisis tersebut.

Disini saya hanya ingin memberi kesaksian bagaimana sebagai pemimpin FRETILIN, walaupun dilecehkan dan dikotori secara pribadi dan politik, dia tetap tenang dan memiliki jiwa Kenegaraan, agar pemerintahan yang datang, dari tahun 2007 sampai 2017, bisa memerintah dalam situasi yang tenang.

Sangatlah mudah bagi seorang pemimpin FRETILIN untuk menciptakan sebuah situasi yang tidak aman dan sebuah pemerintahan yang labil bagi pemerintah-pemerintah yang datang. Tetapi dia tidak melakukan itu. Dia menjadi oposisi yang kuat dan tegas selama lima tahun pertama (2007-2012).

Hanya siapa yang telah melalui krisis 2006 dan mengetahui apa yang telah dilakukan terhadap FRETILIN dan khususnya terhadap Mari Alkatiri, bisa melihat kehebatan orang ini, kemampuannya untuk melupakan apa yang telah terjadi, hanya untuk sesuatu yang lebih penting, yakni kepentingan nasional.

Kita sudah jauh melewati krisis 2006; kita telah hidup dan menikmati kedamaian dan ketenangan lebih dari sepuluh tahun. Dan semua berharap tetap ada kedamaian dalam sepuluh tahun mendatang.

Dia menerima kekalahannya dalam pemilihan umum 2012, walaupun hanya ada sedikit perbedaan, FRETILIN tidak menolak pendekatan yang dilalukan oleh Xanana Gusmao untuk sebuah awal baru dan menjadi mitra politik antara dua partai terbesar itu.

Dan mulailah sebuah pengalaman baru yang dilakukan sampai sekarang, sebuah mitra kerja yang jarang antara dua kekuatan politik, yakni FRETILIN dan CNRT. Sebagian pengamat takut akan hilangnya demokrasi karena bagi mereka tidak akan ada demokrasi tanpa oposisi yang kuat. Saya tidak setuju. Jerman telah memiliki selama bertahun-tahun dan masih memiliki apa yang mereka namakan Koalisi Terbesar dari dua partai politik yang besar, yakni CDU dan SPD. Dan tidak ada yang mengatakan bahwa demokrasi di Jerman menjadi lemah karena alasan tersebut.

Dengan pendapatan yang terbatas dari minyak dan gas, dengan keberhasilan dan kesalahan, Xanana telah memimpin selama 10 tahun dengan pendapatan ekonomi yang kuat. Tetapi “tubuh sangatlah lemah” dan dengan kelimpahan yang relatif dari uang dolar, politisi dan pegawai negeri tidak dapat menghindar dari gelombang amplop.

Tidak ada yang baru, korupsi telah merajalela di antara sebagian besar politik dan bisinis di dunia. Dan kita mengakui bahwa kita, yang dinamakan Dunia Ketiga, memiliki reputasi yang sangat buruk dimana di dunia kita korupsi telah meluas dan mengakar di semua bidang Negara dan masyarakat.

Timor Leste bisa jadi berbeda tapi sayang sekali tidak. Bila pada tahun 2002 sudah menuduh Pemerintahan Konstitusional Pertama dengan korupsi, apa yang bisa kita katakana terhadap situasi sekarang?

Pada tanggal 22 Juli rakyat akan kembali lagi ke tempat pemungutan suara dan dari situ akan ada Parlemen Nasional dan Pemerintahan yang baru.

Pemilihan Umum akan berjalan dengan bebas bila adanya partisipasi yang betul-betul bebas dari pemilih tanpa adanya penganiayaan secara politik. Tapi akan kah berjalan dengan adil? Bila adil kita dapat memahami adanya sebuah arena politik yang sama bagi semua, untuk partai-partai besar dengan bantuan yang besar dan bagi partai-partai kecil tanpa ada bantuan, maka pemilihan umum kita belum lah adil.
Demokrasi kita yang baru ini banyak belajar dengan cepat dengan contoh yang baik dan buruk dari demokrasi yang lain – Amerika Serikat, India, Indonesia, Thailand, Filipina, dst.. dimana pada sebuah kampanye untuk pemilihan umum difasilitasi dengan dana yang baik dan peralatan-peralatan lainnya yang menjadi lebih dilihat adalah hasilnya daripada visi yang cemerlang dan program-program yang dielaborasi dengan cerdas.

Bagi saya, harapan saya bagi demokrasi kita adalah tidak ada kekerasan dan korban jiwa. Tidak ada yang dilukai atau meninggal karena sebuah pemilihan umum yang bebas dan demokratis.

Francisco Luolo Guterres dan Mari Alkatiri dan semua orang FRETILIN telah melakukan sebuah perjalanan yang panjang di padang gurun mulai tahun 2007. Dan mereka melakukan perjalan ini dengan berjiwa Kenegaraan, telah banyak menyumbang bagi perdamaian, keamanan dan kenyamanan yang sekarang kita rasakan di Negara kita selama sepuluh tahun terakhir. Mereka tidak mengigit lidah dan melakukan aksi-aksi demo melawan Pemerintah. Mereka membiarkan Pemerintah yang dipimpin oleh Maun Bot Xanan berjalan dengan baik dan tanpa adanya gangguan.

Apapun hasil dari pemilihan umum yang akan datang, harus memiliki sebuah pemerintahan yang kuat dan bijaksana untuk melihat hal-hal positif yang telah dilakukan – dan banyak sekali yang telah dilakukan! – tapi harus juga memiliki kerendehan hati dan keberanian untuk menerima dan memperbaiki kesalahan.

Presiden Republik Franscisco Luolo, seorang yang sedeharna dan tenang, dia tahu bagaimana bisa bekerja sesuai apa yang telah ditulis dalam Undang-Undang Dasar, dia akan memanggil partai yang paling banyak suara atau koalisi parlamenter, “setelah mendengarkan partai-partai yang mendapat kursi di Parlamen”, untuk membentuk Pemerintahan.

Presiden juga mengetahui akan mengunakan “pengaruhnya yang tinggi” untuk mengundang semua pihak, yang menang dan yang kalah, bagi sebuah dialog untuk mengkaji lebih dalam tentang Negara Bangsa dan Jalan untuk Masa Depan (2017-2022), dan tantangan-tantangan besar untuk lima sampai sepuluh tahun mendatang.

Kita jangan melupakan Gereja, mitra terbesar bagi masyarayat dan kesatuan nasional; lembaga masyarayat, sektor swasta bahwa mereka harus merasakan bagian dari semua, bagian yang penting, yang menarik.

Tidak seorang pun adalah musuh dan tidak seorang pun harus dikeluarkan. Ini bukan berarti semuanya harus mengambil bagian dalam pemerintahan sebab partisipasi dan kontribusi dalam membangun Negara bukan saja melalui PN atau Pemerintahan. Kita bisa berkontibusi dengan cara yang berbeda, dengan kecerdasan dan pengetahuan kita, didalam dan diluar institusi Negara, tetapi harus berkontribusi bagi Kebaikan Umum.

Kita harus mengkaji lebih dalam semua tantangan dan kesempatan, tantangan dari berbagai arah, hakekat dan dimensinya; berhadapan dengan semua tantangan ini definiskan prioritas nasional yang terpenting dan sebuah strategi nasional yang bisa menyelesaikan semua tantangan ini, mengunakan kesempatan yang ada, mendorong pembagunan yang merata dan kelangsungan hidup Negara, dan menjaga Perdamaian dan Kedaulatan Negara.

Semoga sukses Paman Mari, sukses bagi semua, bagi demokrasi kita, untuk Negara kita.

LEAVE A REPLY